Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 di ITB prodi Arsitektur. Di mana memiliki waktu kuliah yang sangat padat karena saya mengambil 21 SKS untuk semester ini dengan asumsi, semakin banyak mengambil SKS, semakin cepat lulus, mengingat syarat kelulusan 144 SKS maka saya memutuskan untuk memperbanyak SKS dari porsi normal (18 SKS) pada tingkat dua ini.
Pada awalnya tidak ada masalah dalam menjalani kuliah dengan jadwal padat dan hasil rancangan untuk mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur (8 SKS) yang dituntut harus optimal. Namun, pada minggu-minggu selanjutnya, terjadi sedikit kerumitan pada jadwal kuliah yang bentrok. Kuliah Prinsip Perancangan Interior(PPI) yang sengaja saya ambil dari prodi Desain Interior untuk menunjang kuliah Studio, bentrok dengan kuliah Studio Perancangan(Studio). Dimana PPI berlangsung pada hari Jumat (13.00-15.00) di tengah jadwal studio hari Jumat (09.00-17.00).
Saat memilih jadwal kuliah sebelumnya, bentrok ini sudah saya perhitungkan sehingga apapun resikonya akan saya terima. Lama kelamaan jadwal pengumpulan tugas studio yang sering jatuh pada hari Jumat, membuat saya lebih memilih untuk menyelesaikan tugas studio terlebih dahulu dan menomorduakan PPI. Alhasil, saya merasa jadi membuang-buang kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar prodi.
Entah karena “rakus” atau memang ingin mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya di bangku kuliah ini, saya mengikuti berbagai macam kegiatan yang berbau jurnalistik di tengah kesibukan kuliah. Status saya di sini adalah mengasah kemampuan jurnalistik yang memang sudah menarik minat saya dari SMP. Oleh karena itu, langkah awal yang saya lakukan adalah bergabung dengan Pers Mahasiswa ITB (Persma). Walaupun di mulai dari unit yang kecil, namun saya mendapatkan pengalaman dari senior-seniornya baik yang berhubungan dengan jurnalistik maupun lainnya.
Langkah selanjutnya yang saya ambil adalah melamar magang ke Kantor Berita ITB. Perlu diketahui, lowongan magang ini belum tentu dibuka tiap tahun (baru dua gelombang) sejak Kantor Berita ITB berdiri dari tahun 2007. Selain dikontrak, reporter magang yang bergabung juga mendapat kemudahan-kemudahan akses lainnya yang menunjang pemberitaan di kampus.
Di sinilah saya diajarkan untuk bersikap netral dalam menyampaikan berita di kampus. Bagaimana cara menulis fakta, namun tidak mengenyampingkan kenyataan yang terjadi dalam kampus (tidak menutup-nutupi kekurangan yang mungkin terjadi dari pihak kampus). Alhamdulillah, sekarang tinggal menunggu dikontrak pada bulan Januari.
Dari Kantor Berita, dicari dua orang (satu laki-laki dan satu perempuan) yang bersedia magang di Layanan dan Produksi Multimedia ITB (LPM). Saya dan seorang teman EL’06 mengajukan diri, dengan syarat bekerja sukarela (tidak dibayar). Yang saya butuhkan saat ini bukanlah gaji dari magang, tetapi pengalaman yang berharga dan belum tentu saya dapatkan di lain waktu dan tempat.
Di LPM, kami diajarkan bagaimana mengoperasikan kamera camcorder (membutuhkan tenaga saat menggunakannya dalam posisi stand by), mengambil gambar yang baik, merencanakan pengambilan gambar dan membuat skenario peng-edit-an agar video yang ditampilkan di website ITB menyampaikan semua informasi yang dibutuhkan dan dapat menarik perhatian pengunjung website.
Semua hal yang saya dapatkan melatih saya untuk belajar mengatur waktu dengan baik dan menentukan prioritas, mengingat saya harus pintar mencuri-curi waktu untuk meliput acara kampus yang waktunya bersamaan dengan jadwal kuliah. Seringkali saya rela mengambil jatah absen agar dapat meliput acara sepenuhnya atau malah sebaliknya, mengikuti sebagian proses acara dan mengorbankan sisanya karena terpepet jadwal kuliah.
Namun, prioritas utama saya adalah kuliah. Jadi, bila saya diminta untuk meliput acara kampus yang bentrok dengan jadwal kuliah penting, saya akan keberatan kecuali acara kampus yang akan saya liput ini porsinya sangat penting bagi kampus. Tanggungan tanggungjawab yang besar pada kedua orangtua saya adalah hal yang terpenting dalam menjalani masa kuliah. Oleh karena itu, saya belajar untuk dapat menjalani keseimbangan antara kuliah, mencari pengalaman, dan bekerja.
wuih..penuh benar jadwal lo wik..
ada lowongan di produksi y?
mw tuh gw..tapi brhubung karena terikat n sukarela..ga jd dh
he
FYI, persma jaman dulu pernah memproduksi koran kampus yang didistribusikan ke seluruh indonesia.. jadi kalau dibilang unit kecil mungkin sekarang iya, tapi dulu unitnya punya pengaruh besar di Indonesia lho.. ayo kembalikan kejayaan persma
@ wana:
mulai Jan’09 gw dikontrak wan…
jd dpt fasilitas + payment d…
hore…!
xP
itung2 skrg ngumpulin pngalaman sbanyak2nya lah,
ntar klo uda krja baru tuh ngumpulin duit n pahala sbanyak2nya.
@ zamakh:
iy nie. makin ganti generasi, persma makin g tersentuh.
ok d.. qta coba tingkatkan performa kerja persma mulai generasi kera 08 yg br ini. mohon doanya!
lha, alumni ic yg di korsel y..?