Sepanjang jalan Dago (Ir. H. Djuanda), pengamen, pengemis, penjual bunga dan penjaja-penjaja lainnya bagai kerumunan yang tak dapat dipisahkan dari sirkulasi lalu lintas jalan Dago, terutama pada hari libur. Namun, yang menjadi perhatian saya kali ini adalah pengamen-pengamen berumur produktif.
Banyak ditemui di kota Bandung, pengamen yang rata-rata masih muda, yang seharusnya dapat bekerja lebih layak dan mendapatkan upah lebih besar daripada mengamen. Mengamen seakan-akan menjadi profesi. Yang lebih mengherankan lagi, mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendapatkan uang secara instan pun rela mempertaruhkan harga diri dan meluangkan waktu demi mengamen. Bayangkan… mahasiswa? bukankah masih lebih menguntungkan kerja magang malam hari sepulang kuliah yang menjanjikan pendapatan lebih besar dan dalam nominal yang sudah disepakati di awal?
Lain hal nya dengan mengamen karena ingin mempertunjukkan kemampuan bernyanyi. Dalam hal ini, mengamen merupakan sarana publikasi yang tidak membutuhkan biaya, malah mendatangkan apresiasi dari penikmatnya.
Seringkali saat saya naik angkutaan umum di jalan Dago, terutama saat dekat lampu merah klinik Cinta Kasih Tzu Chi, seorang pemuda berkacamata, dengan khasnya memakai syal, dengan sigap menghampiri tiap kendaraan umum yang berhenti saat menunggu lampu merah. Dengan sopannya, ia menyapa pengendara angkutan umum,”Permisi, bapak supir, saudara-saudara sekalian. Sambil menunggu lampu merah, sejenak kita dengarkan tembang kenangan,” dan setelah bernyanyi diakhiri dengan, “Terimakasih bapak-bapak, ibu-ibu. Semoga perjalanan Anda lancar”. Dari performance nya yang memuaskan secara performance dan attitude, membuat pendengat sangat menikmati lagu, sehingga banyak yang mengapresiasi dengan memberikan uang.
Selain etika sopan santun yang saya kagumi dari dia, kemampuan ia bernyanyi dengan gitarnya juga sangat mengagumkan. Lagu-lagu yang disajikan tidak sembarangan. Kebanyakan lagu-lagu anyar dalam negeri, semua lagu yang dinyanyikannya pun tidak ada yang meleset dari chord, suaranya bak penyanyi yang sudah sering masuk dapur rekaman. Tidak heran bila pengamen zaman sekarang banyak yang dikontrak dan diorbitkan oleh produser lokal karena bermodalkan good performance and good attitude.
Bandingkan saja dengan pengamen yang sumpah serapah bila tidak diberi uang. Padahal usaha mereka dalam bernyanyi dapat dinilai asal-asalan. Pernah suatu hari, saat di dalam angkutan umum hanya ada saya dan seorang teman, sedang mengobrol ketika seorang pengamen menghampiri kami. Kami tidak memberinya uang karena menilai nyanyiannya buruk. Karena kesal tidak kami beri uang, dia malah meniru-niru ucapan saya saat mengobrol, dengan keras sambil pergi. Seandainya saja saya orang yang mudah tersinggung dan sulit memaafkan, pasti menjadi dosa baginya hingga saat ini. Namun, hal tersebut saya anggap saja hanya angin lalu.
Di sini lah terlihat mana yang mengamen dengan kesungguhan dan hanya sekedar tergiur uang instan. Bagi saya, perilaku menunjukkan segalanya. Bila ingin diapresiasi orang, mulailah dengan mengapresiasi mereka sebagai pendengar. Pendengar senang, uang pun datang.
yap..nagmen emang gak selalu jelek ko..di bdg banyak pengamen yang bermutu kan? kalo gw lagi nunggu bis ke leuwipanjang di dpan unpad, ada pngamen yang bmutu th..
yap, good performance akan dinilai lebih daripada, orang yang udah asal”an, maksa pula..