Studying, Learning, Working.. in a same time.

9 12 2008

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 di ITB prodi Arsitektur. Di mana memiliki waktu kuliah yang sangat padat karena saya mengambil 21 SKS untuk semester ini dengan asumsi, semakin banyak mengambil SKS, semakin cepat lulus, mengingat syarat kelulusan 144 SKS maka saya memutuskan untuk memperbanyak SKS dari porsi normal (18 SKS) pada tingkat dua ini.

Pada awalnya tidak ada masalah dalam menjalani kuliah dengan jadwal padat dan hasil rancangan untuk mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur (8 SKS) yang dituntut harus optimal. Namun, pada minggu-minggu selanjutnya, terjadi sedikit kerumitan pada jadwal kuliah yang bentrok. Kuliah Prinsip Perancangan Interior(PPI) yang sengaja saya ambil dari prodi Desain Interior untuk menunjang kuliah Studio, bentrok dengan kuliah Studio Perancangan(Studio). Dimana PPI berlangsung pada hari Jumat (13.00-15.00) di tengah jadwal studio hari Jumat (09.00-17.00).

Saat memilih jadwal kuliah sebelumnya, bentrok ini sudah saya perhitungkan sehingga apapun resikonya akan saya terima. Lama kelamaan jadwal pengumpulan tugas studio yang sering jatuh pada hari Jumat, membuat saya lebih memilih untuk menyelesaikan tugas studio terlebih dahulu dan menomorduakan PPI. Alhasil, saya merasa jadi membuang-buang kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar prodi.

Entah karena “rakus” atau memang ingin mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya di bangku kuliah ini, saya mengikuti berbagai macam kegiatan yang berbau jurnalistik di tengah kesibukan kuliah. Status saya di sini adalah mengasah kemampuan jurnalistik yang memang sudah menarik minat saya dari SMP. Oleh karena itu, langkah awal yang saya lakukan adalah bergabung dengan Pers Mahasiswa ITB (Persma). Walaupun di mulai dari unit yang kecil, namun saya mendapatkan pengalaman dari senior-seniornya baik yang berhubungan dengan jurnalistik maupun lainnya.

Langkah selanjutnya yang saya ambil adalah melamar magang ke Kantor Berita ITB. Perlu diketahui, lowongan magang ini belum tentu dibuka tiap tahun (baru dua gelombang) sejak Kantor Berita ITB berdiri dari tahun 2007. Selain dikontrak, reporter magang yang bergabung juga mendapat kemudahan-kemudahan akses lainnya yang menunjang pemberitaan di kampus.

Di sinilah saya diajarkan untuk bersikap netral dalam menyampaikan berita di kampus. Bagaimana cara menulis fakta, namun tidak mengenyampingkan kenyataan yang terjadi dalam kampus (tidak menutup-nutupi kekurangan yang mungkin terjadi dari pihak kampus). Alhamdulillah, sekarang tinggal menunggu dikontrak pada bulan Januari.

Dari Kantor Berita, dicari dua orang (satu laki-laki dan satu perempuan) yang bersedia magang di Layanan dan Produksi Multimedia ITB (LPM). Saya dan seorang teman EL’06 mengajukan diri, dengan syarat bekerja sukarela (tidak dibayar). Yang saya butuhkan saat ini bukanlah gaji dari magang, tetapi pengalaman yang berharga dan belum tentu saya dapatkan di lain waktu dan tempat.

Di LPM, kami diajarkan bagaimana mengoperasikan kamera camcorder (membutuhkan tenaga saat menggunakannya dalam posisi stand by), mengambil gambar yang baik, merencanakan pengambilan gambar dan membuat skenario peng-edit-an agar video yang ditampilkan di website ITB menyampaikan semua informasi yang dibutuhkan dan dapat menarik perhatian pengunjung website.

Semua hal yang saya dapatkan melatih saya untuk belajar mengatur waktu dengan baik dan menentukan prioritas, mengingat saya harus pintar mencuri-curi waktu untuk meliput acara kampus yang waktunya bersamaan dengan jadwal kuliah. Seringkali saya rela mengambil jatah absen agar dapat meliput acara sepenuhnya atau malah sebaliknya, mengikuti sebagian proses acara dan mengorbankan sisanya karena terpepet jadwal kuliah.

Namun, prioritas utama saya adalah kuliah. Jadi, bila saya diminta untuk meliput acara kampus yang bentrok dengan jadwal kuliah penting, saya akan keberatan kecuali acara kampus yang akan saya liput ini porsinya sangat penting bagi kampus. Tanggungan tanggungjawab yang besar pada kedua orangtua saya adalah hal yang terpenting dalam menjalani masa kuliah. Oleh karena itu, saya belajar untuk dapat menjalani keseimbangan antara kuliah, mencari pengalaman, dan bekerja.





Antara Mengamen dan Etika

6 11 2008

Sepanjang jalan Dago (Ir. H. Djuanda), pengamen, pengemis, penjual bunga dan penjaja-penjaja lainnya bagai kerumunan yang tak dapat dipisahkan dari sirkulasi lalu lintas jalan Dago, terutama pada hari libur. Namun, yang menjadi perhatian saya kali ini adalah pengamen-pengamen berumur produktif.

Banyak ditemui di kota Bandung, pengamen yang rata-rata masih muda, yang seharusnya dapat bekerja lebih layak dan mendapatkan upah lebih besar daripada mengamen. Mengamen seakan-akan menjadi profesi. Yang lebih mengherankan lagi, mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendapatkan uang secara instan pun rela mempertaruhkan harga diri dan meluangkan waktu demi mengamen. Bayangkan… mahasiswa? bukankah masih lebih menguntungkan kerja magang malam hari sepulang kuliah yang menjanjikan pendapatan lebih besar dan dalam nominal yang sudah disepakati di awal?

Lain hal nya dengan mengamen karena ingin mempertunjukkan kemampuan bernyanyi. Dalam hal ini, mengamen merupakan sarana publikasi yang tidak membutuhkan biaya, malah mendatangkan apresiasi dari penikmatnya.

Seringkali saat saya naik angkutaan umum di jalan Dago, terutama saat dekat lampu merah klinik Cinta Kasih Tzu Chi, seorang pemuda berkacamata, dengan khasnya memakai syal, dengan sigap menghampiri tiap kendaraan umum yang berhenti saat menunggu lampu merah. Dengan sopannya, ia menyapa pengendara angkutan umum,”Permisi, bapak supir, saudara-saudara sekalian. Sambil menunggu lampu merah, sejenak kita dengarkan tembang kenangan,” dan setelah bernyanyi diakhiri dengan, “Terimakasih bapak-bapak, ibu-ibu. Semoga perjalanan Anda lancar”. Dari performance nya yang memuaskan secara performance dan attitude, membuat pendengat sangat menikmati lagu, sehingga banyak yang mengapresiasi dengan memberikan uang.

Selain etika sopan santun yang saya kagumi dari dia, kemampuan ia bernyanyi dengan gitarnya juga sangat mengagumkan. Lagu-lagu yang disajikan tidak sembarangan. Kebanyakan lagu-lagu anyar dalam negeri, semua lagu yang dinyanyikannya pun tidak ada yang meleset dari chord, suaranya bak penyanyi yang sudah sering masuk dapur rekaman. Tidak heran bila pengamen zaman sekarang banyak yang dikontrak dan diorbitkan oleh produser lokal karena bermodalkan good performance and good attitude.

Bandingkan saja dengan pengamen yang sumpah serapah bila tidak diberi uang. Padahal usaha mereka dalam bernyanyi dapat dinilai asal-asalan. Pernah suatu hari, saat di dalam angkutan umum hanya ada saya dan seorang teman, sedang mengobrol ketika seorang pengamen menghampiri kami. Kami tidak memberinya uang karena menilai nyanyiannya buruk. Karena kesal tidak kami beri uang, dia malah meniru-niru ucapan saya saat mengobrol, dengan keras sambil pergi. Seandainya saja saya orang yang mudah tersinggung dan sulit memaafkan, pasti menjadi dosa baginya hingga saat ini. Namun, hal tersebut saya anggap saja hanya angin lalu.

Di sini lah terlihat mana yang mengamen dengan kesungguhan dan hanya sekedar tergiur uang instan. Bagi saya, perilaku menunjukkan segalanya. Bila ingin diapresiasi orang, mulailah dengan mengapresiasi mereka sebagai pendengar. Pendengar senang, uang pun datang.





1st Portfolio

30 10 2008

Tugas kecil ke-3 untuk studio AR 2100, berupa shelter atau bangunan peneduh yang berukuran luas maksimum 20m2, dengan klasifikasi, antara lain : berfungsi sebagai pelindung dari panas dan hujan, terbuat dari material alami (kayu atau bambu), dengan penutup atap berupa rumput (rumbia, jerami, ijuk), daun (nipah, dll), genteng atau bahan lainnya yang dapat digunakan sesuai rangkanya, bangunan merupakan satu kesatuan (massa), seluruh rangka tertutup atap, dan dapat digunakan oleh siapa saja untuk berbagai macam kegiatan.

Waktu yang diberikan hanya 3 minggu untuk mencari ide, menentukan bahan, membuat gambar kerja berupa : tampak, denah, potongan dan detail sambungan, membuat maket skala minimal 1 : 50 (umumnya 1 : 20), memindai gambar kerja dan disusun sedemikian rupa hingga membentuk PORTOFOLIO.

Ditambah lagi, kami harus mempresentasikan portofolio kami pada masing-masing dosen pembimbing. Sangat padat jadwal yang kami jalani, tentunya banyak yang sudah mulai jatuh sakit hingga ada yang harus dirawat di rumah sakit. Sekali lagi, ini baru TUGAS KECIL.
Shelter saya sendiri terinspirasi dari model atom kuantum, yang saya aplikasikan pada denah :

Selain itu, saya juga terinspirasi dari keranjang tahu Sumedang yang bentuknya unik dan anyamannya kuat. Saya aplikasikan anyaman-anyaman tsb pada sistem tiang bangunan utama :

Untuk rangka atap, saya terinspirasi dari bunga bermahkota empat helai yang masing-masing helainya menunjuk pada arah mata angin yang berlawanan :

Hal ini lah yang menginspirasi saya untuk menamakan desain shelter ini QUANTRO, yang saya gabungkan dari dua kata, yaitu : QUANTUM = model atom kuantum yang menginspirasi saya dan QUATTRO = empat (italy) yang mewakilkan empat arah pintu yang menghadap ke empat mata angin.

Material yang saya gunakan adalah bambu diameter 5 cm, dengan penutup atap berupa jerami.

Berikut ini adalah gambar-gambar kerja saya :

- TAMPAK DEPAN, BELAKANG, KANAN dan KIRI (simetris)

- TAMPAK DIAGONAL

- POTONGAN

- DENAH

- PERSPEKTIF

- DETAIL SAMBUNGAN

dan inilah portofolio saya :

Harap maklum apabila terlihat hasil scan yang kurang rapi karena keterbatasan sarana dan waktu. Saya cukup puas dengan karya ini. Kerja keras saya membuahkan pujian dari dosen pembimbing ; Bpk. Agus Ekomadyo S. S.T, M.T. Semoga hal tsb membuat saya termotivasi untuk berkarya lebih baik lagi.





Babakan Siliwangi : Perjuangan Mempertahankan Ruang Hijau Bandung

30 10 2008

Babakan Siliwangi (BakSil) adalah salah satu dari 7.86 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang tersisa di kota Bandung. Pengertian RTH adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Fungsinya antara lain sebagai pengendali kelembaban, penjaga iklim mikro, daerah resapan air, penghasil oksigen, penyerap panas, dan pembangkit hujan. Bila dikaji berdasarkan Undang- Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan, RTH sebuah kota minimal 30 persen dari total luas wilayah. Dapat disimpulkan dari UU tersebut bahwa untuk saat ini, RTH di Bandung belum memenuhi persentase. Oleh karena itu, jika ada bangunan komersial yang dibangun di Babakan Siliwangi, dikhawatirkan terjadi krisis air pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan.

Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, menyatakan sikap untuk menolak perubahan fungsi lahan Baksil dari ruang terbuka hijau dan meminta transparansi serta pelibatan masyarakat dalam pengembangan tata kota Bandung. Aksi tersebut dilakukan dengan cara menyatukan suara kampus dengan mengadakan aksi penandatanganan di spanduk ‘Selamatkan Baksil Kita’ di Campus Center pada hari Jumat(12/09/08). Hasil pengumpulan tandatangan tersebut digunakan sebagai petisi yang akan dibacakan oleh presiden KM ITB; Shana Fatima. Melalui penandatanganan spanduk tersebut, ditargetkan 1000 orang, yang dinilai sudah dapat mewakili suara 12000 jumlah masa kampus.

Mengenai penentuan target yang diharapkan, dapatkah 1000 suara tersebut mewakili dan membulatkan suara 12000 jumlah masa kampus? “Awalnya ada yang perpendapat seperti itu tapi tidak memungkinkan lagi untuk menambah target karena pertimbangan waktu (jangka waktu yang dimiliki kurang dari lima hari) dan sumber daya manusia yang dimiliki dirasa kurang mencukupi. Selain itu, dari Satgas juga belum melakukan pencerdasan ke masa kampus karena terlalu sibuk dengan kajian”, jawab Nanta; salah satu Satgas Baksil, ketika diwawancarai.

Dalam aksi-aksi penyelamatan Baksil lainnya, Keluarga Mahasiswa ITB bekerjasama dengan komunitas Bandung lainnya, mulai dari CommonRoom, Walhi, Bike to Work, Greeners, BCCF, dll.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.